Pariwisata Sebagai Branding Destinasi Pasca Corona

Pariwisata Sebagai Branding Destinasi Pasca Corona

Pariwisata menjadi sektor yang penting untuk dikembangkan setelah covid19. Pariwisata menjadi penggerak perekonomian masyarakat karena mampu mengangkat semua sektor level ekonomi mulai dari kalangan bawah, menengah, hingga ekonomi kalangan atas.

Sektor pariwisata juga menyumbang kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan suatu daerah. Jika sektor pariwisata bergeliat dan semakin membaik maka pergerakan jutaan orang akan meningkatkan perekonomian secara langsung, dan berdampak sangat positif kepada perekonomian.

Pariwisata sebagai branding destinasi pasca corona menjadi pembahasan yang vital bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk konsisten dan terus meningkatkan kualitas kepariwisataannya. Baik dari destinasi wisata, industri, lembaga, dan sektor pemasarannya.

Lokasi Wisata yang Perlu Didongkrak

Salah satu destinasi wisata yang sedang dimasak oleh pemerintah pusat yakni Bali dan Lombok. Kedua tempat tersebut telah dinaikan rate-nya untuk mendongkrak pemasukan ekonomi dari segi wisata. Diharapkan wisatawan dari mancanegara yang sempat ‘cuti’ akibat covid19 bisa kembali berwisata ke destinasi tersebut.

Selain Bali dan Lombok, pemerintah juga menggadangkan potensi wisata di daerah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, Aceh, dan beberapa provinsi lainnya. Salah satu upaya terbaik yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan meningkatkan citra wisata tersebut melalui pemasaran yang baik dan juga social influencer. Selain itu perlu juga pengembangan dari segi brand management.

Brand Management

Brand Management adalah melakukan perbaikan dalam segi managemen atau pemangku kepentingan dari tingkat terkecil sampai atas. Brand management yang baik akan berimbas pada nilai positif suatu brand. Nilai positif tersebut akan membawa suatu brand kepada konsumen. Dalam kepariwisataan berarti konsumen adalah para pengunjung. Semakin destinasi wisata banyak dinilai positif, semakin banyak pengunjung yang berdatangan.

Tujuan branding dalam wisata adalah tentang cara bagaimana pemangku kepentingan mampu mengelola image dan reputasi dengan memenuhi janji-janji (kepercayaan) kepada wisatawan. Nilai tersebut akan menaikan rating destinasi wisata menjadi lebih baik lagi.

Brand bukan sekadar logo semata. Logo yang bagus dan berfilosofi tinggi juga membawa konten yang positif pula. Maka dari itu, sebelum membranding sesuatu dengan logo yang bagus, pastikan pula untuk membawa trend positif kepada brand. Dengan menaikan nilai positif maka akan berdampak besar pada nilai logo brand, stakeholder, dan juga para pengunjung destinasi wisata. Dengan begitu, bukan tidak mungkin para wisatawan akan datang kembali suatu saat.

Cara Pemasaran Wisata yang Baik

Cara pemasaran wisata yang baik saat ini adalah dengan influencer melalui online. Segmen wisatawan bisa ditarget apakah wisatawan lokal atau mancanegara. Pemerintah bisa menggangungkan destinasi wisata melalui pegiat media sosial, promo-promo menarik, dan lain sebagainya.

Branding yang baik dengan pemasaran yang baik pula akan meningkatkan kualitas brand menjadi semakin positif dan berdampak pada returning visitor atau wisatawan. Brand wisata selanjutnya tidak akan mudah untuk dilupakan maupun ditinggalkan oleh wisatawan atau pengunjung.

Proses branding juga tidak serta merta jadi dalam satu malam, melainkan harus dibangun secara bertahap dan dalam waktu yang tidak singkat. Proses juga tidak selalu mulus. Sehingga stakeholder dan juga pemerintah harus terus menerus melakukan proses pemasaran dan branding yang baik.

Bagaimana Strategi Branding untuk Destinasi Wisata?

Hermawan Kertajaya (Markplus Tourism) menyatakan bahwa terdapat 3 poin penting dalam brangin suatu destinasi wisata. Apa itu?

1. Positioning

Positioning atau pemosisian adalah hal yang harus dilakukan pertama kali. Hal ini berkaitan dengan memosisikan nama brand wisata di hati masyarakat atau calon pengunjung. Dalam menentukan positioning, stakeholder dituntut agar lebih kompetitif dalam menentukan nilai jual wisata, sehingga nilai jual bisa bersaing bahkan lebih baik daripada kompetitor.

Sebagai contoh adalah wisata Bali. Destinasi Bali sudah sangat melekat di hati masyarakat atau wisatawan karena telah ditancapkan branding yang baik dan kuat. Bali dikenal sebagai Pulau Seribu Pura, dan sebagai Pulau Wisata di Indonesia.

2. Differentiation

Diferensiasi maksudnya adalah apa yang menjadi pembeda dengan kompetitor. Hal ini penting dilakukan selanjutnya supaya brand wisata bisa bersaing bahkan mengungguli kompetitor. Diferesiansi produk destinasi wisata dapat dilihat melalui faktor 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Meskipun di lapangan terlihat sama seperti kompetitor namun hasilnya akan berbeda.

Positioning dilakukan untuk menancapkan brand di hati masyarakat, sedangkan diferensiasi untuk memperkuat hasil positioning.

3. Branding

Branding sudah dibahas di atas sebagai salah satu poin penting yang harus diutamakan oleh pengelola atau stakeholder destinasi wisata.

Dalam branding juga dikenal dengan konsep City Branding. Yaitu strategi branding yang hanya mencakup wilayah kota atau kabupaten. Dan mengenalkan akan potensi wisata di wilayah tersebut. Tujuan dari city branding adalah menaikan branding wisata suatu daerah. Hal ini merupakan strategi branding pariwisata yang cukup ampuh untuk menaikan rating wisata suatu daerah.

Logo dan tagline menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan dan menjadi pendongkrang dalam city branding.

Pemerintah pusat dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah harus mencanangkan City branding sehingga tiap wilayah dengan potensi wisatanya yang bagus mampu bersaing dan naik peringkat.

tahun 2017 silam, pemerintah menggaungkan City Branding melalui tagline “The 10 Destination Branding” yaitu daftar 10 destinasi wisata paling diunggulkan dan didorong untuk lebih mendapat perhatian lagi dan mendukung brand Wonderful Indonesia di persaingan internasional.

10 Destinasi Branding Indonesia

Adapun 10 destinasi branding yang digaungkan pemerintah untuk bersaing di kancah internasional yaitu:

  1. Bandung (Stunning Bandung),
  2. Yogyakarta-Solo-Semarang (Java Culture Wonders),
  3. Jakarta (Enjoy Jakarta),
  4. Bali (The Island of Gods),
  5. Banyuwangi (Majestic Banyuwangi),
  6. Kepulauan Riau (Wonderful Riau Islands),
  7. Lombok (Friendly Lombok),
  8. Makassar (Explore Makassar),
  9. Medan (Colorful Medan),
  10. Bukanen-Wakatobi-Raja Ampat (Coral Wonders).

Demikian artikel tentang pentingnya branding dalam dunia wisata dan kepariwisataan di Indonesia. Bagi Anda yang ingin berkonsultasi tentang branding dan seputar SLF atau izin dalam gedung dan bangunan bisa menghubungi kami di PT GIM Indonesia.

This Post Has 2 Comments

Tinggalkan Balasan